Isu Harga Rokok Rp50 Ribu Resahkan Pedagang Asongan

shares |

Isu Harga Rokok Rp50 Ribu Resahkan Pedagang Asongan

Maraknya isu kenaikkan harga satu bungkus rokok menjadi Rp50 ribu tidak saja disambut resah Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia. Para pengasong dan pemilik toko kelontong di Yogyakarta juga dibuat resah dengan isu yang beredar di media sosial tersebut.

Sebut saja Ahmad, salah satu pedagang asongan di kawasan Malioboro Yogyakarta mengatakan banyak calon pembeli yang bertanya-tanya apakah harga rokok akan naik hingga Rp50 per bungkus.

"Katanya September akan naik. Saya juga resah atas pertanyaan calon pembeli saya," katanya, Minggu 21 Agustus 2016.

Menurutnya, jika benar harga satu bungkus rokok Rp50 ribu maka dibutuhkan modal yang berlipat-lipat untuk berjualan rokok di kawasan Malioboro apalagi masih banyak konsumen yang membeli secara batangan bukan bungkusan.

"Satu batang rokok saya jual Rp1.500 hingga Rp20 ribu tergantung jenis dan merek rokok yang akan dibelinya," kata Ahmad.

Dalam satu hari, Ahmad mengaku menyetok sekitar 30 bungkus rokok berbagai jenis dan merek dan dalam satu hari paling banyak laku sekitar 10 bungkus dan lainnya dijual secara batangan.

"Kalau setiap hari saya menyiapkan 30 bungkus rokok maka saya harus keluar uang Rp1,5 juta untuk modal saja," ujarnya.

Dan dapat dipastikan untungnya tidak akan banyak karena pasti pembeli akan berkurang akibat satu batang rokok harga bisa mencapai Rp5 ribu. "Bukannya untung malah merugi ditambah modalnya harus lebih banyak.”

Tak hanya pedagang asongan di wilayah kota, pedagang kelontong di desa-desa juga resah beredarnya isu harga rokok mencapai Rp50 ribu.

"Yang jelas resah karena modalnya akan bertambah banyak namun untung merosot jauh karena pembeli berkurang," kata Ari, pemilik toko kelontong di Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Ari mengaku dalam satu hari bisa menjual hingga puluhan bungkus rokok berbagai merek. Bahkan untuk beberapa jenis rakok dalam satu hari bisa menjual hampir satu slop bungkus rokok.

"Kalau besok harga Rp50 ribu dipastikan permintaan konsumen akan turun drastis. Paling banter beli rokok eceran saja," katanya.

Diapun berharap pemerintah harus arif dalam menentukan kenaikan tarif cukai rokok karena dampaknya dari hulu sampai hilir terkena imbasnya.

"Tembakau itu komoditas yang menyangkut jutaan penduduk Indonesia. Salah membuat kebijakan maka mematikan mata pencaharian jutaan masyarakat Indonesia," kata Ahmad.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemkab Bantul, Pulung Haryadi mengatakan saat ini jumlah luas lahan dan petani tembakau terus menurun meski di beberapa titik petani masih menanam tembakau. Musim yang tidak jelas membuat petani tembakau enggan menanam tembakau karena takut merugi.

"Tanaman tembakau kalau terkena hujan akan mati. Jika hidup makan kualitas daun tembakaunya buruk dan imbasnya petani merugi," katanya.

Diakuinya meski lahan tembakau di Bantul hanya ratusan hektar dan hasilnya masih minim namun budidaya tembakau tetap digalakkan oleh Pemkab Bantul karena tanaman pertanian yang menjanjikan.

"Meski musim tak jelas masih ada petani yang menanam tembakau meski jumlahnya hanya puluhan hektare yang tersebar di Kecamatan Piyungan, Imogiri, Pleret dan Dlingo," ungkapnya.

Terkait dengan isu harga satu bungkus rokok Rp50 ribu, Pulung berharap sebelum pemerintah menaikkan cukai sebaiknya pemerintah daerah yang memiliki petani tembakau diajak bicara karena berdampak luas kepada petani tembakau.

"Bisa saja harga tembakau akan jatuh karena permintaan rokok turun akibatnya permintaan bahan baku rokok juga akan turun sehingga harga jatuh," ujarnya.
--viva.co.id//

Related Posts