Jembatan Hanyut di Terjang Banjir Bandang, Warga Mempertaruhkan Nyawa Untuk Menyebrangi Sungai

shares |

Jembatan Hanyut di Terjang Banjir Bandang, Warga Mempertaruhkan Nyawa Untuk Menyebrangi Sungai

Puluhan warga terpaksa harus berbasah-basah menyeberang Sungai Citalahab beberapa hari terakhir ini. Puluhan warga tersebut berasal dari kampung Cipiit, Desa Bojong Sari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Hal tersebut dikarenakan jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Cipiit dengan perkampungan di sekitar desa setempat itu terbawa hanyut banjir bandang yang terjadi pada Jumat 11 Maret 2016 lalu.

Sungai Citalahab

”Sekarang jika mau pergi ke sekolah, saya harus berbasah-basahan dulu saat menyeberang Sungai Citalahab, begitu juga sebaliknya,” kata Muhamad Barjah (16).



Perbincangan dengan Barjah yang merupakan pelajar kelas 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I di Kota Sukabumi ini berlangsung sebelum Sungai Citalahab yang lebarnya sekitar 20 meter kembali diterjang banjir bandang pada Senin sekitar pukul 17:00 Wib.

Salah satu tokoh masyarakat di Kampung Cipiit, Taryo (43) menuturkan, jembatan besi yang terbawa hanyut oleh banjir bandang tersebut dibangun sekitar tahun 2014. Sebelumnya jembatan yang menghubungkan kampungnya dengan kampung lainnya hanyalah jembatan bambu.

“Jembatan ini bagi warna sini sangatlah penting karena jembatan itu hanya satu-satunya akses untuk pergi keluar kampung, selain pelajar, petani dan pedagang yang setiap harinya memanfaatkan jembatan ini,” jelas Taryo kepada Kompas.com saat akan menjemput anaknya yang pulang sekolah.

Taryo pun menambahkan warga di Kampung Cipiit berharap pemerintah dapat secepatnya membangun kembali jembatan yang lebih kokoh dan kuat, sehingga saat terjadi banjir bandang lagi jembatan tidak akan terbawa hanyut.

“Warga di sini sangat mengharapkan pemerintah segera membangun jembatan tersebut agar akses untuk keluar masuk desa semakin lancar,” harap dia.

Kampung Cipiit sendiri terletak di sekitar kaki perbukitan Gunung Arca yang dihuni oleh 40 kepala keluarga (KK) dengan jumlah keseluruhan jiwa sekitar 150 orang.// majalahbunda.com//

Related Posts