Internet untuk Rumah, Pilih yang Pakai FUP atau Unlimited?

shares |

Internet untuk Rumah, Pilih yang Pakai FUP atau Unlimited?

Saat ini, sebagian besar masyarakat membutuhkan internet untuk menunjang beragam aktivitas harian. Mulai dari sekadar posting foto di media sosial, bekerja melalui kantor virtual, hingga menikmati hiburan melalui layanan video streaming di Smart TV.

Berdasarkan data yang dirilis e-Marketer, tercatat pengguna internet di Indonesia sebanyak 93,4 juta pada 2015. Angka ini masih akan terus merangkak naik. Cara pengguna mengakses internet terbagi menjadi dua, nirkabel atau melalui kabel. Akses nirkabel vital bagi kita yang menggunakan perangkat mobile, sedangkan koneksi kabel cocok untuk perkantoran dan perumahan.

Penyedia jasa layanan internet nirkabel seperti operator telekomunikasi pada umumnya menawarkan paket kuota data yang memiliki banyak keterbatasan. Misalnya, Anda bisa membeli kuota internet 8GB untuk satu bulan. Namun, jika dalam perjalanannya, Anda ternyata menghabiskan data 8GB dalam sepekan, maka koneksi akan otomatis terputus.

Itulah sebabnya pengguna ponsel atau tablet jarang menonton video streaming boros data semacam Netflix atau YouTube melalui perangkat mereka secara terus-menerus. Sementara itu, akses internet melalui kabel, yang cocok untuk perumahan, memiliki banyak keunggulan, terutama bebas kuota alias unlimited.

Meskipun demikian, beberapa penyedia jasa layanan internet kabel memiliki ketentuan penggunaan yang disebut dengan FUP (Fair Usage Policy). Karena itu, sebelum memilih layanan yang pas, ada baiknya Anda meluangkan waktu untuk mempelajari FUP agar tak kecewa di kemudian hari. Tiap perusahaan memiliki kebijakan FUP sendiri.

Apa sih FUP itu?

FUP adalah kebijakan penyedia layanan untuk menurunkan kecepatan internet Anda jika sudah mencapai batas penggunaan tertentu. Nah, batas penggunaan di sini bisa berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Misalnya, ada perusahaan yang memberikan "batas atas" 300GB jika Anda berlangganan paket internet dengan kecepatan maksimal 10Mbps selama sebulan.

Jika batas itu terlampaui, penyedia layanan akan menurunkan kecepatan internet Anda secara signifikan, bahkan ada yang hingga 50 persen.

Ini bisa menjadi masalah jika Anda berlangganan internet untuk seluruh penghuni rumah. Jika ada anggota keluarga yang rajin menonton Netflix, misalnya, atau bermain game online, atau membutuhkan layanan konferensi video, bisa jadi kegiatan mereka akan terganggu jika sudah terkena FUP.

Adakah alternatif yang lebih baik?

Cara paling aman, Anda sebaiknya memilih penyedia layanan internet yang tidak menerapkan FUP semacam itu. MyRepublic, misalnya, alih-alih FUP, mereka memilih menerapkan Traffic Priority System. Penjelasan sederhananya, MyRepublic mempelajari kebiasaan pelanggan dalam menggunakan internet. Data tersebut kemudian mereka jadikan sebagai acuan untuk menyediakan kecepatan internet bagi pengguna.

Misalnya, jika Anda kerap menonton atau mengunggah video ke YouTube, atau mengunduh film, MyRepublic akan memberikan kecepatan internet tinggi. Namun, jika Anda lebih banyak membaca berita atau membuka media sosial, mereka akan menyesuaikan pula kecepatan internetnya.

Menariknya, Traffic Priority System sama sekali tak menetapkan batasan penggunaan. Dengan kata lain, kalaupun penggunaan data Anda tiba-tiba melonjak dari 300GB menjadi 1TB, Anda akan tetap mendapatkan kecepatan yang normal, tidak diturunkan. Untuk tahu lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi situs resmi MyRepublic.

Bagi pengguna internet di perumahan, kebijakan seperti ini jauh lebih menjanjikan pengalaman yang menyenangkan ketimbang FUP. Sebab, kita tak pernah tahu kapan akan menghabiskan banyak data. Satu hal yang pasti, semua orang pasti butuh koneksi yang normal, kapan pun mereka butuhkan.
-- metrotv news--

Related Posts